Bandeng
Nama ilmiah: Chanos chanos
Rentang parameter air
Rentang di bawah ini dipakai mesin diagnosis untuk menilai kondisi air. Nilai di luar rentang optimal menjadi faktor pemberat.
Rentang parameter air khusus spesies ini belum diisi pakar; mesin diagnosis memakai rentang umum.
Penyakit yang sering menyerang
Aeromoniasis (Motile Aeromonas Septicemia)
Aeromonas hydrophila dan aeromonad motil lain
Infeksi bakteri aeromonad motil pada ikan air tawar dan payau, umumnya dipicu stres, luka, atau kualitas air buruk. Tanda klinisnya mirip banyak infeksi bakteri lain sehingga perlu kultur bakteri.
Trichodiniasis
Trichodina spp.
Infestasi protozoa bersilia pada kulit dan insang yang berkaitan dengan sanitasi buruk dan kepadatan tinggi. Diagnosis memerlukan pemeriksaan mikroskop kerokan kulit atau insang.
Vibriosis
Vibrio spp.
Infeksi bakteri yang lebih sering pada ikan laut dan payau, ditandai perdarahan dan borok pada kulit, sirip, dan ekor. Stres dan kepadatan tinggi menjadi pemicu. Tanda klinisnya serupa infeksi bakteri lain, sehingga pembedanya hanya kultur bakteri.
Monogeneasis (cacing insang dan kulit)
Dactylogyrus spp., Gyrodactylus spp.
Infestasi cacing pipih monogenea pada insang, kulit, dan sirip, terutama pada kepadatan tinggi. Diagnosis melalui pemeriksaan mikroskop biopsi insang, sirip, dan lendir kulit.
Mycobacteriosis
Mycobacterium spp.
Penyakit bakteri granulomatosa kronis yang dapat menyerang semua spesies ikan, terutama pada budidaya intensif. Bakterinya umumnya resisten terhadap pengobatan antibiotik.
Kekurangan Oksigen Terlarut (Hipoksia)
Gangguan lingkungan saat oksigen terlarut turun. Sebagian besar ikan stres pada 2–4 mg/L dan kematian biasanya terjadi di bawah 2 mg/L.
Keracunan Amonia
Amonia bebas (NH3) merusak jaringan insang mulai sekitar 0,05 mg/L, menghambat pertumbuhan, meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, dan pada kadar tinggi mematikan.
Ichthyobodosis (Costiasis)
Ichthyobodo spp.
Infestasi flagelata kecil pada kulit dan insang ikan air tawar maupun laut. Kulit sering berubah keabu-abuan; diagnosis memerlukan mikroskop.
Defisiensi Vitamin C (Broken Back Disease)
Gangguan gizi akibat vitamin C dalam pakan tidak mencukupi, misalnya karena pakan tidak memakai vitamin C stabil atau disimpan terlalu lama. Kasus berat menimbulkan skoliosis ekstrem.
Gas Bubble Disease
Gangguan akibat air lewat jenuh gas, terutama nitrogen, misalnya dari air sumur atau pompa yang bocor di sisi hisap. Dapat menimbulkan kematian massal akut maupun kronis.
Keracunan Karbon Dioksida (CO2)
Karbon dioksida bersifat toksik bagi ikan di atas sekitar 12 mg/L, terutama pada kepadatan tinggi dengan aerasi kurang dan oksigen rendah.
Keracunan Hidrogen Sulfida (H2S)
H2S terbentuk di endapan dasar yang anoksik atau dari air sumur tercemar. Paparan akut dapat menyebabkan kematian mendadak (dilaporkan pada 0,5 mg/L); paparan kronis membuat ikan lesu dan nafsu makan turun.