Kerapu
Nama ilmiah: Epinephelus spp.
Rentang parameter air
Rentang di bawah ini dipakai mesin diagnosis untuk menilai kondisi air. Nilai di luar rentang optimal menjadi faktor pemberat.
| Rentang parameter air | Optimal | Waspada | Buruk |
|---|---|---|---|
| pH | 7.8 – 8.3 | 5 – 7.79 8.31 – 10 | tanpa batas – 4.99 10.01 – tanpa batas |
Penyakit yang sering menyerang
Trichodiniasis
Trichodina spp.
Infestasi protozoa bersilia pada kulit dan insang yang berkaitan dengan sanitasi buruk dan kepadatan tinggi. Diagnosis memerlukan pemeriksaan mikroskop kerokan kulit atau insang.
Vibriosis
Vibrio spp.
Infeksi bakteri yang lebih sering pada ikan laut dan payau, ditandai perdarahan dan borok pada kulit, sirip, dan ekor. Stres dan kepadatan tinggi menjadi pemicu. Tanda klinisnya serupa infeksi bakteri lain, sehingga pembedanya hanya kultur bakteri.
Lymphocystis
Lymphocystis disease virus (Lymphocystivirus)
Penyakit virus jinak yang umumnya sembuh sendiri, ditandai benjolan seperti kembang kol terutama pada sirip.
Red Sea Bream Iridoviral Disease (RSIVD)
Red sea bream iridovirus (RSIV); infectious spleen and kidney necrosis virus (ISKNV)
Penyakit megalocytivirus yang tercantum WOAH pada lebih dari 30 spesies ikan laut budidaya termasuk kerapu dan kakap putih. Ikan lesu, anemia berat, insang pucat, dan limpa membesar.
Viral Nervous Necrosis (VNN)
Betanodavirus
Penyakit betanodavirus pada ikan laut budidaya yang menyerang otak dan retina. Larva dan juvenil paling rentan, dengan gejala berenang spiral dan kematian massal.
Monogeneasis (cacing insang dan kulit)
Dactylogyrus spp., Gyrodactylus spp.
Infestasi cacing pipih monogenea pada insang, kulit, dan sirip, terutama pada kepadatan tinggi. Diagnosis melalui pemeriksaan mikroskop biopsi insang, sirip, dan lendir kulit.
Cryptocaryoniasis (bintik putih laut)
Cryptocaryon irritans
Penyakit protozoa bersilia pada ikan laut yang mirip Ich, tampak sebagai bintik atau bercak putih pada kulit, sirip, dan insang. Beberapa strain dapat menginfeksi pada salinitas rendah.
Amyloodiniosis (velvet)
Amyloodinium ocellatum
Infestasi dinoflagelata pada ikan laut yang membuat kulit tampak berlapis debu keemasan, disertai megap-megap dan kematian tinggi.
Mycobacteriosis
Mycobacterium spp.
Penyakit bakteri granulomatosa kronis yang dapat menyerang semua spesies ikan, terutama pada budidaya intensif. Bakterinya umumnya resisten terhadap pengobatan antibiotik.
Kekurangan Oksigen Terlarut (Hipoksia)
Gangguan lingkungan saat oksigen terlarut turun. Sebagian besar ikan stres pada 2–4 mg/L dan kematian biasanya terjadi di bawah 2 mg/L.
Keracunan Amonia
Amonia bebas (NH3) merusak jaringan insang mulai sekitar 0,05 mg/L, menghambat pertumbuhan, meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, dan pada kadar tinggi mematikan.
Tenacibaculosis
Tenacibaculum maritimum
Penyakit bakteri ulseratif pada ikan laut budidaya dengan kematian tinggi. Lesi berupa borok, perdarahan, dan nekrosis pada kulit, sirip, dan ekor, serta radang mulut berdarah.
Benedeniasis (cacing kulit ikan laut)
Benedenia spp., Neobenedenia spp.
Infestasi cacing monogenea kapsalid pada kulit, sirip, dan mata kerapu budidaya di keramba. Infestasi berat merusak kulit dan membuka jalan infeksi sekunder seperti Vibrio harveyi.
Ichthyobodosis (Costiasis)
Ichthyobodo spp.
Infestasi flagelata kecil pada kulit dan insang ikan air tawar maupun laut. Kulit sering berubah keabu-abuan; diagnosis memerlukan mikroskop.
Defisiensi Vitamin C (Broken Back Disease)
Gangguan gizi akibat vitamin C dalam pakan tidak mencukupi, misalnya karena pakan tidak memakai vitamin C stabil atau disimpan terlalu lama. Kasus berat menimbulkan skoliosis ekstrem.
Gas Bubble Disease
Gangguan akibat air lewat jenuh gas, terutama nitrogen, misalnya dari air sumur atau pompa yang bocor di sisi hisap. Dapat menimbulkan kematian massal akut maupun kronis.
Keracunan Karbon Dioksida (CO2)
Karbon dioksida bersifat toksik bagi ikan di atas sekitar 12 mg/L, terutama pada kepadatan tinggi dengan aerasi kurang dan oksigen rendah.
Keracunan Hidrogen Sulfida (H2S)
H2S terbentuk di endapan dasar yang anoksik atau dari air sumur tercemar. Paparan akut dapat menyebabkan kematian mendadak (dilaporkan pada 0,5 mg/L); paparan kronis membuat ikan lesu dan nafsu makan turun.
Referensi
- Ito, S., Shibuya, K., Kawashima, N., Tsutsumi, N., Sugiura, K. 2025. Co-infection with Vibrio harveyi and monogenean parasites in Malabar groupers (Epinephelus malabaricus). Veterinary Pathology 63: 138–142.